BENARKAH MASYARAKAT SUMSEL TIDAK CINTA DENGAN SRIWIJAYA FC?
Melihat hasil yang dicapai oleh Sriwijaya FC pada musim 2006-2007, sangatlah fantastik. Sriwijaya FC sudah 3 musim berada di bumi Sriwijaya. Pada tahun pertama keberadaannya, Sriwijaya FC hanya cukup dapat bertahan di divisi utama Liga Indonesia. Tahun kedua, Sriwijaya FC mulai merangkak ke papan tengah klasemen wilayah barat. Untuk ajang Copa Indonesia, pencapaian paling tinggi Cuma bisa masuk ke 32 besar.Menginjak musim ke tiga keberadaannya di Sumatera Selatan, manajemen Sriwijaya FC melakukan perombakan. Pelatih Suimin Diharja digantikan oleh Rahmad Darmawan. Rahmad Darmawan diberikan kesempatan yang luas untuk melakukan perombakan tim. Akhir tahun 2006, cekmad (panggilan kesayangan dari suporter Sriwijaya FC), mulai melakukan petualangannya. Pemain yang disukainya maupun yang dulu pernah dilatihnya, baik saat di Persikota maupun saat di Persipura mulai diliriknya. Christian Lenglolo, cristian warobay, obiora, okba, korinus fingkereuw serta beberapa pemain yang lain mulai merapat di Sriwijaya FC. sedangkan pemain seperti renato, fery rotinsulu serta beberapa pemain yang musim lalu telah bermain di Sriwijaya FC, masih dipertahankan.Pada pertengahan musim, Sriwijaya FC dapat menjadi pimpinan klasemen di wilayah barat. Akan tetapi, keberhasilan ini tidak membuat Rahmad Darmawan merasa puas. Maka, bung Rahmad Darmawan pun melakukan perburuan pemain lagi. Keith Kayamba Gumbs di kontrak oleh manajemen Sriwijaya FC selama 2 musim. Okba yang di anggap sudah kehabisan bensin, di depak. Ternyata keputusan Rahmad Darmawan sangat tepat. Keith Kayamba memberikan semangat baru bagi tim. Akhirnya Copa serta liga Indonesia di rengkuh oleh Sriwijaya FC.Hanya, saat ini beredar isu yang sangat tidak sedap. Isu yang beredar, banyak masyarakat tidak suka keberhasilan Sriwijaya FC. isu yang berkembang diantaranya pemerintah daerah telah menghabiskan APBD untuk menghidupi Sriwijaya FC. serta isu yang diangkat mengenai tidak adanya putra daerah di Sriwijaya FC.Untuk musim 2006-2007, Sriwijaya FC mendapat suntikan dana APBD sebesar 15 Milyar. Lebih kecil dibandingkan dengan Persib yang mendapat dana sebesar 26 Milyar ataupun klub – klub besar seperti Persija, Persik, PSM Makasar ataupun Persebaya. Angka sebesar 15 Milyar ini pun digunakan untuk dua kejuaraan. Copa Indonesia dan Liga Indonesia. Permasalahan putra daerah pun diangkat untuk menjatuhkan pamor Sriwijaya FC di mata masyarakat Sumatera Selatan. Padahal di dalam Sriwijaya FC ada putra daerah seperti septarianto, Donny Fahamsyah serta Amirul mukminin. Hanya saja kemampuan putera daerah masih sangat kurang. Tidak mungkin jika putera daerah punya kemampuan yang tinggi tapi tidak dimainkan oleh pelatih. Pernah ketiga pemain ini dimainkan penyisihan Copa Indonesia saat Sriwijaya FC melawan PS Palembang. Yang terjadi, Sriwijaya FC hampir kalah. Lagi pula untuk apa kita memaksakan putera daerah bermain di pertandingan kalau hanya berharap untuk kalah. Contoh klub Arsenal dari Inggris dan Inter Milan dari Italia, jangankan putera daerah, pemain dari negara mereka sendiri pun tidak ada yang bermain di kedua klub tersebut. Sepakbola adalah olahraga yang sangat universal. Sangat naif kalau kita sandingkan sepakbola dengan isu putra daerah. Hanya saja Kita berharap, dengan dilatih oleh Rahmad Darmawan, kemampuan bermain bola dari putera daerah meningkat.Isu ini dikembangkan oleh orang – orang yang tidak suka dengan ketua umum Sriwijaya FC. Orang – orang yang berseberangan arah politiknya dengan ketua umum. Mungkin juga orang – orang yang mengaku suka dengan sepakbola padahal sebenarnya mereka tidak suka. masyarakat sudah mengetahui kalau pertengahan tahun 2008 ini, ketua umum Sriwijaya FC yang juga saat ini menjabat sebagai Gubernur Sumatera Selatan akan bertarung memperebutkan posisi Gebernur untuk periode 2008-2013.Kalau mau jujur, sebenarnya sebagian besar masyarakat Sumatera Selatan sangat mencintai Sriwijaya FC. hal ini bisa dibuktikan. Saat pertandingan Sriwijaya FC berlangsung, stadion Jaka Baring selalu penuh. Jika pertandingan tersebut disiarkan secara langsung di televisi, jalan2 hampir diseluruh kabupaten di Sumatera Selatan akan sepi karena masyarakat asyik menonton siaran langsung pertandingan Sriwijaya FC. Pada laga Final Liga Indonesia, masyarakat lebih asyik nonton bareng diluar rumah bergabung dengan masyarakat lain lengkap dengan atribut Sriwijaya FC.Kitapun berharap, janganlah kemenangan Sriwijaya FC diusik karena masyarakat akan marah. Semoga untuk musim depan, Sriwijaya FC dapat mempertahankan kejayaannya di dunia persepakbolaan Indonesia. Amiin.

Oi, aman nak tau nian datang kePlembang…. cinto dengan idaknyo masyarakat plembang, dak tau apo kau, wong plembang waktu final piala copa banyak yang datang ke Senayan…. aku be lagi ketemu kawan kecik aku galak main bola di Masjid Agung……. jadi dak usah macak-macak nak ngomongi masyarakat Plembang dak cinto Sriwijaya FC….. Laskarnyo be lagi Laskar Wong Kito……………
[...] BENARKAH MASYARAKAT SUMSEL TIDAK CINTA DENGAN SRIWIJAYA FC? [...]
Sriwijaya FC di Ranah Blog | BOLANOVA.COM dibahas juga di dalam April 19, 2008 pada 2:48 am